Kenapa Gen Z Sulit Punya Rumah dan Benarkah karena Boros
Harga rumah naik, gaji sulit mengejar, dan kebiasaan belanja ikut dibahas. Begini konteks obrolan terbaru soal Gen Z dan rumah.

Gen Z sulit punya rumah terutama karena harga rumah naik dan gaji sulit mengejarnya, bukan semata karena boros. Itulah inti pembahasan terbaru sejak awal November 2026. Soal gaya hidup memang ikut dibahas. Namun pengamat properti menyebut harga dan ketiadaan subsidi sebagai hambatan.
Lihat juga: Sosial
Apa yang Memicu Obrolan Gen Z Sulit Punya Rumah pada 3 November 2026?
Pada 3 November 2026, video penjelasan berjudul "Bukan karena Boros, Ini Alasan Gen Z Sulit Punya Rumah" tayang. Judulnya langsung menjawab anggapan lama.
Deskripsi videonya menyebut Gen Z sering dianggap boros karena suka nongkrong, beli kopi, dan belanja daring. Lalu muncul pertanyaan, apa benar itu alasan utamanya? Deskripsi yang sama menyebut harga rumah terus naik, sementara gaji sulit mengejar.

Judul dan deskripsi video penjelasan tentang Gen Z dan rumah (video.kompas.com). Cek beritanya di video.kompas.com
Dari Mana Anggapan Boros Itu Berasal?
Anggapan itu punya pijakan data. Sebuah survei pada 2022 menunjukkan hampir 70 persen Gen Z di Indonesia lebih banyak mengeluarkan uang untuk gaya hidup daripada menabung.
Lihat juga: Viral
Angka itu bukan ukuran kemampuan membeli rumah. Dari bahan yang dibaca redaksi, belum ada riset yang menghitung seberapa besar pengaruh kopi dan belanja daring terhadap cicilan rumah.
Berapa Banyak Gen Z yang Belum Punya Rumah pada 2024?
Survei Rukita pada 2024 menunjukkan sekitar 30 persen Gen Z lebih memilih menyewa hunian daripada membelinya. Perkiraan Kementerian PUPR yang dikutip pada April 2024 menyebut 81 juta milenial dan Gen Z belum memiliki rumah.
Tahun perkiraan PUPR itu tidak disebut jelas. Jadi angkanya sebaiknya dibaca sebagai gambaran besar, bukan hitungan pasti.
Apa Kata Pelaku Properti pada 2025?
Beberapa pelaku properti menjelaskan masalahnya dari sisi lain sepanjang 2025. Tiga pernyataan ini muncul di acara industri.
- Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, mengatakan pada 29 September 2025, "Bukan enggak mau beli rumah, dia enggak bisa beli rumah". Menurutnya, penyebabnya tidak ada subsidi dan harga beli terlalu tinggi.
- Darmadi Darmawangsa dari AREBI mengatakan pada 25 September 2025 bahwa kalau anak muda lebih banyak menyewa, "mereka akan kesulitan 10-20 tahun lagi".
- Hendra Hartono, CEO PT Leads Property Service Indonesia, menyebut pada 19 Juni 2025 ada faktor gengsi. Kalau belum punya uang membeli rumah di Cipete, sebagian memilih sewa dulu.
Apa yang Perlu Dipantau setelah Ini?
Darmadi menyebut insentif PPN DTP berlaku sampai 2026. Tahun itu hampir habis, jadi kelanjutannya layak dipantau, terutama kalau kamu sedang menghitung cicilan.
Pantau juga pengumuman resmi pemerintah, bukan hanya potongan video.
Lihat juga: Cara Daftar Pelatihan Vokasi Nasional Batch 7 sebelum 11 November
Kebiasaan belanja dan harga rumah sama-sama bisa dibahas. Yang perlu dicek adalah seberapa kuat data di balik tiap klaim.
Masih Penasaran?
Apakah Gen Z sulit punya rumah hanya karena boros?
Dari sumber yang dibaca redaksi, tidak ada yang menyebut boros sebagai satu-satunya sebab. Survei 2022 mencatat kebiasaan belanja, sedangkan pelaku properti menyebut harga dan subsidi. Belum ada riset yang mengukur porsi masing-masing.
Apa itu PPN DTP untuk rumah?
PPN DTP adalah insentif pajak pertambahan nilai yang ditanggung pemerintah. Menurut Darmadi, insentif itu berlaku untuk semua orang dan berjalan sampai 2026.
Sumber dan Konteks
- Kompas, 3 November 2026
- detikProperti, 15 Oktober 2025
- detikProperti, 25 September 2025
- VIVA, 18 Juni 2024
- ANTARA News Bali, 28 April 2024
- Foto sampul: Kredit foto ilustrasi: Mujib di Unsplash
Dirangkum Vokafolks dari unggahan dan media yang tertaut di atas supaya kamu tidak kudet. Terakhir dicek 4 November 2026.


